Intip Trik Sukses Bisnis Daring ala Bukalapak

Bukalapak hadir di Universitas Padjadjaran untuk berbagi informasi mengenai tren berbisnis daring/online dalam gelaran “Belajar Ngelapak Bersama Komunitas”. Acara diselenggarakan di Bale Santika Unpad, Jatinangor, Senin (14/10).

Pada kesempatan tersebut, Community Program Manager Bukalapak Leyana Riesca menyampaikan pentingnya membangun bisnis secara daring. Menurutnya, dengan memperluas bisnis melalui media daring, akan memperluas target pasar.

Leya menyebutkan bahwa setidaknya sejak tahun 2010, tren belanja daring di Indonesia terus tumbuh dan akan terus meningkat.

“Kebiasaan belanja online masyarakat pada umumnya terus meningkat, tidak ada penurunan, hanya pasti tantangannya sebagi penjual online setiap tahun pasti akan meningkat juga,” ujar Leya.

Ada beragam platform yang dapat dipilih oleh penjual, seperti memanfaatkan media sosial, lokapasar, hingga memiliki laman sendiri. Leya menyebutkan, pemilihan media sangat bergantung pada target pasar dan karakterisitik produk. Apapun media yang dipilih, tetap diperlukan upaya promosi hingga menjaga loyalitas pelanggan.

“Esensinya semua sama, tapi balik lagi brand kita itu seperti apa,” ujar alumnus Fikom Unpad ini.

Selain Leya, acara tersebut juga menghadirkan Ranger Komunitas Bukalapak Hendi Fadillah yang memaparkan mengenai tips dan trik berbisnis daring. Menurut Hendi, salah satu hal penting yang perlu dilakukan penjual daring adalah dengan mengikuti komunitas. Dengan mengikuti komunitas, penjual akan lebih mudah memperoleh informasi yang perlu diketahui untuk pengembangan bisnisnya.

Acara yang merupakan bagian dari Bukalapak Goes to Universitas Padjadjaran tersebut dibuka oleh Dekan Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad Dr. Edy Suryadi, Ir., MT. Dalam sambutannya, Dr. Edy berharap kegiatan ini dapat dimanfaatkan dengan baik oleh mahasiswa Unpad, terutama mereka yang tertarik pada dunia kewirausahaan.

Sumber: http://www.unpad.ac.id

UMKM dan Koperasi, Pondasi Utama Hadapi Resesi Ekonomi Global

Analis Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang juga Wakil Bendahara Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Suhaji Lestiadi mengungkapkan, sektor UMKM dan koperasi mampu menjadi penyangga sistem perekonomian nasional dalam menghadapi resesi ekonomi global.

Ancaman resesi global membayangi berbagai negara di belahan dunia akibat perang dagang, terutama oleh Amerika dan China. Situasi ini akan menekan neraca perdagangan dalam negeri, mengingat kedua negara tersebut merupakan mitra dagang utama Indonesia.

“Saat krisis global 1998, UMKM sudah terbukti mampu menopang ekonomi Indonesia sehingga perekonomian Indonesia mampu bangkit kembali di tahun-tahun selanjutnya,” katanya, di Jakarta, Rabu (16/10/2019).

Menurut Suhaji, pemerintah harus memberikan fokus dan perhatian lebih besar lagi bagi penguatan UMKM dan koperasi di Indonesia sehingga bisa naik kelas dan memiliki ketangguhan dalam menopang perekonomian Indonesia. Hal ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2005–2025 yang menyasar pada tujuan peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pengurangan ketimpangan.

“Mendorong UMKM naik kelas dapat mengurangi tingkat kemiskinan sekitar 20% atau setara dengan mengeluarkan 5 juta orang dari kemiskinan. Selain itu dapat mengurangi tingkat ketimpangan sekitar 4%,” imbuh Suhaji.

Terkait resesi dan krisis ekonomi global, berdasarkan rilis yang dikeluarkan International Monetary Fund (IMF) pada Rabu (15/10/2019), pertumbuhan ekonomi global diperkirakan hanya mencapai 3% dan merupakan yang terendah sejak krisis. Situasi ini pun diprediksi masih akan berlanjut di tahun selanjutnya. Bloomberg Economics menciptakan model untuk menentukan peluang resesi Amerika.

Saat ini, indikator memperkirakan kemungkinan resesi Amerika di beberapa titik di tahun berikutnya adalah 27%, lebih tinggi dibanding setahun yang lalu.

“Dengan pertumbuhan 3%, tidak ada ruang untuk kesalahan kebijakan,” ungkap Gita Gopinath, ekonom IMF, Rabu (16/10/2019), dilansir dari situs resmi IMF.

Selain itu, imbuh Gita, menjadi kebutuhan mendesak bagi para pembuat kebijakan untuk secara kooperatif mengurangi perdagangan dan ketegangan geopolitik. Perang dagang antara Amerika Serikat dan China saja diperkirakan akan menyusutkan perekonomian dunia sebesar 0,8% di 2020.

Sumber: https://www.wartaekonomi.co.id

Bank Dunia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Merosot Dibawah 5%

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia merosot dibawah 5% pada tahun depan. Lembaga keuangan internasional yang bermarkas di Washington, Amerika Serikat, dalam laporan September ini, menilai perekonomian Indonesia hanya mencapai 4,9% di tahun 2020, laju paling lambat sejak 2015.

Laporan Bank Dunia pada September ini, jauh lebih rendah daripada laporan bulan Juni, dimana saat itu Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesai tumbuh 5,2% di tahun 2020.

Sedangkan pemerintahan Joko Widodo menyatakan pertumbuhan ekonomi Indoensia tahun 2019 sebesar 5,1% dan tahun 2020 mencapai 5,3%.

Melansir Bloomberg, Senin (9/9/2019), prakiraan Bank Dunia sebesar 4,9% berdasarkan presentasi sumber dalam pemerintah Indonesia kepada Presiden Joko Widodo. Namun, dua orang yang mengetahui masalah ini tidak ingin disebutkan identitasnya.

Bank Dunia lantas memperingatkan Indonesia untuk membuat “evakuasi” jika risiko perekonomian dunia semakin memburuk, seiring perang dagang dan geopolitik.

Perang dagang Amerika Serikat dan China belum menunjukkan tanda-tanda mereda, ditambah perang dagang Jepang-Korea Selatan, dan India yang menyatakan ketidaksukaan dengan kebijakan perdagangan China.

Risiko geopolitik pun semakin meningkat, dengan “titik nyala dimana-mana”, mulai dari Brexit hingga protes berlarut-larut di Hong Kong, belum lagi Pemilu AS tahun depan. Bank Dunia mengatakan risiko-risiko ini berpotensi menyebabkan “guncangan ekonomi negatif”, dengan arus modal asing bisa keluar secara besar-besaran.

Perlambatan ekonomi global akan menyeret pertumbuhan ekonomi Indonesia ke level 4,6% pada tahun 2022. Penurunan 1 poin persentase tingkat pertumbuhan China ekuivalen dengan penurunan 0,3% untuk Indonesia.

Hal ini disebabkan, kata Bank Dunia, ketergantungan Indonesia terhadap investasi asing terutama China, dalam saham dan obligasi. Sehingga membuat ekonomi Indonesia rentan terhadap arus keluar dana asing (capital outflow). Pemerintah harus memfokuskan upaya memacu investasi langsung asing daripada mengurangi defisit neraca transaksi berjalan.

Sumber: https://ekbis.sindonews.com

Ketua Prodi Magister Ilmu Ekonomi FEB Unpad Kunjungi Univeritas Siliwangi, Jajaki Kerjasama

Ketua Program Studi Magister Ilmu Ekonomi FEB Universitas Padjadjaran, Dr. Bayu Kharisma, S.E., M.E. bersama tim melaksanakan kunjungan ke Fakultas Ekonomi Univeritas Siliwangi, Tasikmalaya pada hari Kamis, 12 September 2019. Kunjungan ini dilakukan dalam rangka menjajaki kerjasama penyelenggaraan pendidikan Program Magister antara Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unversitas Padjadjaran. Kunjungan di terima oleh Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi, Dr. H. Dedi Kusmayadi, S.E., M.Si., Ak., C.A Pembantu Dekan I, Dr. Apip Supriadi, S.E., M.Si dan Pembantu Dekan II, Dr. Hj. Iis Surgawati, Dra., M.Si. Kegiatan dimulai pukul 10.00 WIB, dihadiri ketua labolatorium Dwi Hastuti SE., M.Si., Dosen Universitas Siliwangi H. Ako Sukarso.,S.E.,M.E., Nanang Rusliana.,S.E.,M.Si., Risna Amalia Hamzah.,S.E.,M.E.,  dan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi.

Dalam pemaparannya Dr. Bayu Kharsima, S.E., M.E. mengenalkan Program Studi Magister Ilmu Ekonomi sebagai salah satu Program Pascasarjana yang ada di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, kampus Magister Ilmu Ekonomi yang berlokasi di dekat pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat, dan kurikulum yang diselenggarakan di Magister Ilmu Ekonomi FEB Unpad. Selain itu juga diberikan informasi mengenai tenaga pengajar (dosen), latar belakang dan profil lulusan, serta fasilitas/ layanan yang tersedia, seperti perpustakaan, teknologi informasi, pusat studi, dan sarana olah raga.

Di samping itu,  diinformasikan juga mengenai kerjasama yang telah dilakukan FEB Unpad dengan sekolah bisnis terkemuka, seperti University of Canterbury di Selandia Baru, Monash University di Australia, ESC Troyes Champagne Schoole of Management di Perancis, Rikkyo University di Jepang, dan beberapa Universitas di Korea Selatan dan Amerika Serikat. Melalui kerjasama ini, memberikan peluang yang besar bagi mahasiswa FEB Unpad untuk melakukan berbagai aktifitas seperti pertukaran pelajar, kerjasama penelitian dan konferensi ilmiah, dan lain-lain.

FEB Unpad Bidik Akreditasi Internasional Level Institusi

[pikiran-rakyat.com, 27 Agustus 2019].- Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran membidik akreditasi internasional dari The Alliance on Business Education and Scholarship for Tomorrow, 21 st Century Organization (ABEST 21) untuk level institusi. Langkah tersebut diambil demi meningkatkan kualitas manajemen pendidikan yang dimiliki sekaligus menjawab tantangan global.

ABEST21 adalah lembaga akreditasi internasional untuk sekolah bisnis yang berdiri pada tahun 2005. Organisasi ini berkedudukan di Tokyo-Jepang dan dibentuk akademisi terpandang Asia-Pasifik. Anggotanya pada saat ini berjumlah lebih dari 60 sekolah bisnis dari seluruh dunia.

Dekan FEB Unpad Yudi Azis, S.E., S.I., S.Sos., M.T., PhD mengatakan sebelumnya tiga prodi FEB telah memperoleh akreditasi internasional yakni Magister Manajemen, Magister Ekonomi Terapan, dan Magister Akuntansi. Namun, sejalan dengan prinsip kaizen yang dimiliki ABEST21 pihaknya juga terus
melakukan berbagai peningkatan dan pengembangan. Diantaranya dengan membidik akreditasi internasional bagi level institusi, dalam hal ini FEB.

Pada akreditasi level inistitusi fakultas ini, FEB Unpad mendaftarkan 15 program studi untuk dapat terakreditasi secara internasional, yakni 3 program doktor, 6 program master, 6 program sarjana dan sarjana terapan.

“Prinsip dari ABEST 21 adalah capaian kaizen atau continuous improvement yang basisnya proses. Hal ini sejalan dengan semangat Unpad untuk membangun kualitas secara berkelanjutan,” katanya di sela ABEST21 Peer Review Visit, di Bandung, Selasa, 27 Agustus 2019. Kegiatan dilaksanakan selama dua
hari sejak Senin, 26 Agustus 2019.

Menurut dia, di tengah tantangan isu globalisasi saat ini penting bagi institusi pendidikan memperoleh akreditasi di tingkat yang lebih, yakni internasional. Selain untuk mendapatkan pengakuan global, tentunya akreditasi internasional akan mendorong peningkatan kualitas manajemen pendidikan bagi masyarakat.

Yudi menjelaskan, dalam ABEST ada enam aspek utama yang menjadi perhatian untuk ditingkatkan. Keenam aspek utama tersebut yakni visi dan misi, profil mahasiswa, profil dosen (jumlah doctor dan guru besar), profil penelitian dan publikasi, keunikan kurikulum dan infrastruktur, serta profil
kerjasama industri dan perguruan tinggi internasional.

“Semangat internasionalisasi ini membuat pembenahan dan peningkatan dilakukan menjadi lebih sistematis untuk mendongkrak semua perangkat secara simultan,” ujar Yudi.

Dipaparkan untuk memperoleh ABEST 21 ada sejumlah tahapan yang harus dilewati. Di antaranya dengan terlebih dulu menjadi anggota dengan akreditasi A secara nasional, dimilikinya rencana pengembangan kualitas yang dilakukan, serta dilakukannya self evaluation report yang berbicara
mengenai detil dari setiap 6 aspek utama.

“Pasca visitasi masih ada satu tahapan terakhir, yakni revisi berdasarkan hasil visitasi serta keputusan akhir oleh komite akreditasi internasional dari dokumen revisi berdasarkan paparan ketua asesor/peer review team,” katanya.

Disinggung mengenai peluang diperolehnya akreditasi internasional, Yudi menuturkan hal itu bergantung pada revisi hasil visitasi. Ia berharap tidak banyak revisi yang harus dilakukan. Ia pun meyakini kerja keras dan kerjasama yang dilakukan akan membuahkan hasil yang positif. Adapun pengumuman hasil akan dilakukan pada Maret 2020 mendatang.

Sumber: www.pikiran-rakyat.com

Foto: www.feb.unpad.ac.id

 

Sarah Annisa Noven, “Fertilitas dan Infant Mortalitas Memberikan Pengaruh Negatif Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia”

Sarah Annisa Noven yang biasa dipanggil Sarah, merupakan salah satu mahasiswa peserta sidang Tesis yang digelar Program Studi MIE FEB Unpad pada tanggal 13 Agustus 2019. Sarah adalah mahasiswa angkatan 2017 yang mengambil peminatan Ekonomi Kesehatan dan Kependudukan. Ia berhasil menyelesaikan studi tepat waktu, yaitu 4 semester.

Dalam penelitian Tesisnya yang berjudul “Pengaruh Dinamika Penduduk Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia”, disebutkan bahwa fertilitas dan infant mortalitas memberikan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia yang terus bertambah menjadi beban bagi negara dan menyebabkan banyaknya konsumsi serta mengurangi jumlah sumberdaya alam dan lahan terus berkurang. Angka Infant mortalitas meningkat mencerminkan angka harapan hidup yang rendah, belum maksimalnya pelayanan kesehatan, kesehatan ibu, bayi dan gizi sehingga memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini menjadi gambaran untuk Indonesia kedepan bagaimana mengendalikan jumlah kelahiran dan kematian juga menjadikan manusia yang berkualitas dan mampu berdaya saing untuk memajukan perekonomian.

Penelitian yang dilakukan menggunakan data sekunder berbentuk time series tahun 1986 sampai tahun 2016 dengan metode Ordinary Least Square. Persamaan menggunakan variabel dinamika fertilitas, infant mortalitas, dengan variabel kontrol tabungan dan belanja pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi. Data yang digunakan bersumber dari World Development Indicator, Badan Pusat Statistik, World Bank dan Bank Indonesia.

Nurul Siti Jahidah, Teliti Ketimpangan Pendidikan dan Ketimpangan Pendapatan di Indonesia

Nurul Siti Jahidah yang akrab dipanggil Nurul, baru saja menyelesaikan studinya di Program Studi Magister Ilmu Ekonomi, salah satu Program Pascasarjana yang ada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran. Dalam sidang Tesis yang digelar pada hari Selasa, 13 Agustus 2019, Nurul dinyatakan lulus dengan yudisium Sangat Memuaskan.

Dalam Tesisnya, yang berjudul “Analisis Ketimpangan Pendidikan dan Ketimpangan Pendapatan di Indonesia” disebutkan bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ketimpangan pendidikan, pertumbuhan ekonomi per kapita, urbanisasi dan lag ketimpangan pendapatan terhadap ketimpangan pendapatan di Indonesia. Selain itu untuk mengetahui pengaruh ketimpangan pendapatan, pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan, urbanisasi dan lag ketimpangan pendidikan terhadap ketimpangan pendidikan di Indonesia.

Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder dalam bentuk panel periode tahun 2010 hingga 2017 dengan jumlah unit yang diteliti sebanyak 33 provinsi di Indonesia.

Metode penelitian yang digunakan yaitu 2SLS (two stage least squares) dengan fixed effect dipilih sebagai metode estimasi parameter terbaik.

Berdasarkan pada hasil penelitian, ketimpangan pendapatan pada penelitian ini dipengaruhi oleh variabel ketimpangan pendidikan dan lag ketimpangan pendapatan, secara positif signifikan sedangkan variabel pertumbuhan ekonomi per kapita dan urbanisasi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ketimpangan pendapatan yang terjadi di Indonesia. Sedangkan ketimpangan pendidikan pada penelitian ini dipengaruhi oleh pengeluaran pemerintah di bidang pendidikan dan urbanisasi dengan pengaruh negative signifikan dan lag ketimpangan pendidikan memiliki pengaruh positif signifikan terhadap ketimpangan pendidikan. Adapun ketimpangan pendapatan memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap ketimpangan pendidikan.

Sesuai dengan hasil penelitian Tesis nya, Nurul menyatakan bahwa “Ketimpangan pendidikan yang terjadi di Indonesia dapat diatasi dengan peningkatan pengeluaran pemerintah dengan komposisi yang tepat, khususnya untuk membantu masyarakat miskin agar mendapat kesempatan untuk menuntut ilmu.  Disamping itu tingkat urbanisasi merupakan salah satu faktor penting, dimana wilayah dengan tingkat urbanisasi yang tinggi cenderung memiliki ketimpangan pendidikan yang rendah, hal ini menunjukkan bahwa pemerataan sarana dan prasarana pendidikan merupakan hal penting agar pendidikan dapat merata tidak hanya di wilayah perkotaan namun juga di wilayah pedesaan”.

Pendaftaran Mahasiswa Baru Gelombang 2 (September – November) Program Studi Magister Ilmu Ekonomi FEB Unpad

Program Studi Magister Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran membuka pendaftaran mahasiswa baru  gelombang 2 (September – November).

Prosedur pendaftaran dapat dilihat di link http://smup.unpad.ac.id/prosedur-pendaftaran-s2

Adapun informasi lebih jelas dapat menghubungi sekretariat Program Studi Magister Ilmu Ekonomi FEB Unpad Telp. (022)4267779 Ext. 102 atau Bayu Kharisma, +62817-9200-922 Dede Imat +62877-2227-4026

Muhammad Aliyyudin, Teliti Penerbitan Surat Berharga Syariah Negara di Indonesia Periode 2011-2016

Sukuk seringkali disebut sebagai obligasi syariah atau Islamic bond. DSN-MUI mendefinisikan obligasi syariah sebagai: “suatu surat berharga jangka panjang berdasarkan prinsip syariah yang dikeluarkan Emiten kepada pemegang Obligasi Syariah yang mewajibkan Emiten untuk membayar pendapatan kepada pemegang Obligasi Syariah berupa bagi hasil/margin/fee serta membayar kembali dana obligasi pada saat jatuh tempo”

Sukuk negara atau dalam bahasa Undang – undang disebut sebagai Surat Berharga Syariah Negara (2008) pertama kali diterbitkan pada tahun 2008. Setiap tahunnya, pertumbuhan sukuk negara terus mengalami peningkatan. Namun demikian, sampai Mei 2018, market share sukuk negara hanya sebesar 15,76%, masih jauh dari Malaysia sebagai penerbit sukuk terbesar di dunia. Dengan potensi dan kondisi yang ada, sebenarnya Indonesia dapat menyusul Malaysia.

Hal inilah yang mendorong Muhammad Aliyyudin sebagai mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi FEB Unpad menyusun Tesis, untuk mengurai rendahnya penerbitan sukuk di Indonesia, menganalisis seberapa jauh dan seberapa kuat hubungan antara sukuk dengan variabel lain. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara variabel makroekonomi, nilai emisi obligasi dan DPK Perbankan Syariah, Country Credit Rating (CCR) dengan penerbitan sukuk di Indonesia.

Dalam sidang Tesis yang digelar pada tanggal 26 Juli 2019, Muhammad Aliyyudin berhasil mempertahankan Tesisnya dengan memperoleh yudisium Sangat Memuaskan.

Dengan menggunakan metode Vector Autoregression (VAR), Muhammad Aliyyudin tidak hanya ingin menganalisis variabel apa saja yang mempengaruhi perkembangan sukuk, tetapi juga seberapa besar pengaruh sukuk terhadap variabel lain khususnya variabel makroekonomi.

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa permasalahan penerbitan sukuk di Indonesia, diantaranya dilihat dari edukasi, mekanisme, dan karakteristik sukuk itu sendiri. Dilihat dari edukasi, berdasarkan survey yang dilaksanakan oleh OJK pada tahun 2014 menunjukan bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia terhadap pasar modal termasuk didalamnya sukuk negara masih sangat rendah. Kemudian jika dilihat dari mekanisme penerbitannya, regulasi yang diterbitkan oleh pemerintah masih sangat terbatas. Selanjutnya, jika dilihat dari karakteristik sukuk negara itu sendiri, beberapa akad seperti misalnya skema ijarah sale and lease back banyak dikritik karena tidak sesuai dengan prinsip syariah.

Jika dilihat dari komposisi kepemilikan sukuk negara, pihak yang paling banyak memegang sukuk negara bukanlah dari pihak perseorangan, melainkan lembaga – lembaga keuangan yang terbagi menjadi korporasi, reksadana, asuransi, dana pensiun dan lain sebagainya. Berdasarkan pengujian granger causality test, diketahui bahwa tidak terdapat hubungan kausalitas antara variabel SBSN dengan variabel lainnya, hanya terdapat hubungan satu arah yakni JUB dan DPK Perbankan Syariah memengaruhi SBSN. Hal ini dapat mengindikasikan masih rendahnya penerbitan sukuk negara di Indonesia serta rendah pula multiplier effect sukuk negara terhadap perekonomian Indonesia.

Berdasarkan pengujian IRF diketahui bahwa SBSN merespon dengan berfluktuasi terhadap shock yang ditimbulkan oleh variabel yang ada dalam sistem VAR. Lamanya SBSN untuk kembali pada kondisi equilibrium setelah menerima shock yang diakibatkan oleh variabel yang ada dalam sistem VAR bervariasi, yakni ada yang 30 sampai 40 bulan.

Pada periode pertama diketahui bahwa variabel SBSN dijelaskan oleh variabel SBSN itu sendiri sebesar 61,74%, JUB 20,56%, Obligasi 15,1%, dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang nilainya tidak lebih dari 3%. Sementara itu, pada akhir periode, variabel yang punya pengaruh dominan terhadap variabel SBSN berturut – turut yaitu SBSN itu sendiri yaitu sebesar 28,13%, DPK Perbankan Syariah yaitu 22,89%, JUB yaitu sebesar 14,43%, Pendapatan Perkapita yaitu 11,04%, Obligasi yaitu 10,79%, Inflasi yaitu 7,47%, PDB sebesar 3,79, dan CCR yaitu sebesar 1,46%

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, Muhammad Aliyyudin menyarankan agar penelitian selanjutnya diharapkan untuk memasukan variabel yang lebih banyak seperti misalnya variabel kurs, ekspor – impor. Selain itu, metode analisis data panel dengan memasukan data dari negara lain juga patut untuk dicoba agar dapat membandingkan kinerja sukuk negara di Indonesia dengan di negara lain.

Kuantitas Infrastruktur Penting Dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi

Rena Yuliana mahasiswa MIE FEB Unpad angkatan 2015, berhasil mempertahankan Tesisnya yang berjudul “Pembangunan Infrastruktur dan Pertumbuhan Ekonomi Provinsi di Indonesia 2011-2017” di hadapan Tim Penguji sidang Tesis yang diselenggarakan pada hari Senin, 22 Juli 2019 di ruang sidang Magister Ilmu Ekonomi. Hasil sidang menyatakan lulus dengan yudisium Sangat Memuaskan.

 

Dalam hasil penelitiannya yang dilakukan dengan menggunakan data panel dari 33 Provinsi di Indonesia periode 2011-2017, dinyatakan bahwa 1) kuantitas infrastruktur mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi; 2) kualitas infrastruktur mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi; 3) kuantitas dan kualitas secara agregat mempunyai pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Sidang Tesis yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam, tidak membuat Rena gugup. Suasana sidang dirasakan lebih santai dan hangat. Hal ini tidak lepas dari peran kedua pembimbingnya yang sangat memotivasi untuk melakukan persiapan yang baik.

 

Seusai sidang Rena menyampaikan 7 hal mengenai pengalamannya dalam mempersiapkan sidang Tesis “Perhatikan baik-baik & lakukan semua yang disarankan dalam perbaikan tesis dari pembimbing, pahami apa yang kita tulis mulai dari cover sampai halaman terakhir lampiran, supaya kita PD, jaga kondisi kesehatan, sarapan pagi dan atur pernafasan selama berjalannya sidang, ini supaya fit & konsentrasi terjaga ga gugup, jawab semua pertanyaan, jawab aja… yang terpenting doa & tawakal“ ungkapnya.

 

 

1 2 3 4